Senin, 09 Januari 2012

Teori Psikologi Pendidikan

A.           Teori Psikologi Pendidikan
1.    Teori Belajar Behavioristik
1.1.       Teori Belajar Behavioristik
Prilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung, anak membuat poster, guru tersenyum, anak mengganggu anak lain dan sebagainya.
Behavioristik bertolak dari anggapan bahwa hampir semua tingkah laku adalah hasil belajar dan diubah dengan belajar. Melalui belajar seseorang akan memiliki pengetahuan, bahasa, sikap, nilai, keterampilan, ketakutan, sifat dan kemampuan untuk mengontrol diri.

1.2.       Tokoh dalam Teori Belajar Behavioristik
a.        B.F. Skinner
B.F. Skinner sebagai salah seorang tokoh ajaran tingkah laku ini penentang aliran psikoanalisa. Menurut pendapatnya, keterangan yang mentalistik intrapsikik seperti yang dikemukakan oleh Psikoanalisa            ( dalam diri seseorang yang menganggap adanya “sesuatu”, “diri” dan atau “ketidaksadaran” ) berasal dari sisa-sisa pandangan animisme yang primitive.
          B.F. Skinner juga berpendapat bahwa penelitian mengenai sikap, emosi, dan lainnya hanya mengaburkan dan menghambat usaha untuk mengerti manusia.  Skinner membagi dua jenis tingkah laku yaitu tingkah laku respondent dan tingkah laku operant.
Contoh : Pelebaran dan penyempitan pupil sebagai respon terhadap perubahan cahaya, menggigil karena turunnya suhu udara, air liur keluar kalau melihat makanan.

b.        John Broades Watson
Tokoh John Broades Watson Karyanya yang paling dikenal adalah "Psychology as the Behaviourist view it" (1913).
Teori Belajar behavioristik menjelaskan belajar adalah perubahan prilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.

Pengkondisian Klasik
Pengkondisian klasik adalah  tipe dimana organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli.
c.         Ivan Pavlov
Pada awal 1900-an, psikolog rusia Ivan Pavlov, dalam eksperimenya  dia secara rutin meletakkan bubur makanan berupa daging didepan mulut anjing, yang menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Anjing itu berliur saat merespon stimuli yang diasosiasikan dengan makanan, seperti ia melihat piring makanan, orang yang membawa makanan, dan suara pintu tertutup saat makanan tiba.
Pengkondisian klasik dapat didefinisikan sebagai proses dimana rangsangan yang sebelumnya netral, jika dipasangkan dengan suatu rangsangan yang tak dikondisikan, akan menciptakan suatu tanggapan yang sangat mirip dengan tanggapan yang semula dihasilkan oleh rangsangan yang tak dikondisikan.
Dua tipe stimuli dan dua tipe respons : uncontioned stimulus (US) adalah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu ,unconditioned respons (UR), conditioned stimulus (CS), Conditioned respons (CR) adalah Stimulus yang tadinya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US.
Contoh pengkondisian :
Sebelum pengkondisian
Makanan – Anjing – Bel – Tidak berliur
Pengkondisian
Bel – Makanan – Anjing berliur
Setelah pengkondisian
Bel – Anjing berliur
d.        Eduard Lee Thorndike
E.D Thorndike ialah tokoh Behavioristik yang tidak radikal. Darinya didapat suatu metode triall and error. E.D Thorndike mengadakan percobaan dengan seekor kucing yang dimasukkan kedalam problem box (sangkar). Untuk menyelidiki bagaimana proses belajar pada manusia dan binatang. Tetapi yang diutamakan ialah proses belajar pada binatang, karena beliau memang seorang ahli ilmu hewan.
Sangkar itu dikunci dengan sebuah palang. Diluar sangkar didekatkannya sepotong dendeng goreng, sebagai perangsang. Demikian pendapat perangsang, kucing itu meronta – ronta, menerkam, menerjang, mengeong dan sebagainya. Dengan maksud untuk melepaskan diri dari sangkar tersebut.

Hukum Belajar thorndike
1.      Hukum Kesiapan (law of readiness)
Jika suatu organisme didukung kesiapan kuat  untuk mendapat stimulus maka tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cendrung dipekuat.
2.        Hukum latihan ( law of exercise) semakin sering tingkah laku di ulang,  maka  asosiasi tersebut semakin kuat.          
3.        Hukum akibat (law of effect) hubungan stimulus respon cendrung   diperkuat bila  akibatnya menyenangkan dan cendrung diperlemah bila akibatnya tidak  memuaskan.

1.3.       Aplikasi Teori Belajar Behaviorisme
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori Behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu :
a.         Mementingkan pengaruh lingkungan
b.        Mementingkan bagian-bagian
c.         Mementingkan peranan reaksi
d.        Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.         Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.         Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.        Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan
Sebagai konsekuensi dari teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks. Sementara itu, tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati, serta kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Dimana perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai, mendapat penghargaan negatif. Dalam hal ini, evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak / kelihatan.
2.    Teori Belajar Kognitif
2.1.       Teori Belajar Kognitif
                     Berdasarkan teori belajar kognitif, belajar merupakan suatu proses terpadu yang berlangsung didalam diri seseorang dalam upaya memperoleh pemahaman dan struktur kognitif baru, atau untuk mengubah pemahaman dan struktur kognitif lama. Memperoleh pemahaman berarti menangkap makna atau arti dari suatu obyek atau suatu situasi yang dihadapi. Sedangkan struktur kognitif adalah persepsi atau tanggapan seseorang tentang keadaan dalam lingkungan sekitarnya yang mempengaruhi ide-ide, perasaan, tindakan, dan hubungan social orang yang bersangkutan. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.

2.2    Tokoh dalam Teori Belajar Kognitif
a. Winkel
Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis  yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
b.  Wallace, Engel dan Mooney
            Menurut, Wallace, Engel dan Mooney teori belajar kognitif memiliki empat postulat, yaitu :
1.         Belajar diikat dengan pengalaman belajar sehari – hari
2.         Penyelesaian masalah lebih baik dibandingkan menghafal saja
3.         Transfer akan terjadi jika pembelajarannya berlangsung pada konteks yang sama dengan aplikasinya
4.         Pembelajaran harus melibatkan diskusi kelompok untuk pengembangan penalaran
c.    Jean Piaget
Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak.
Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah:
a.         Tahap Sensori Motor ( dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun )
Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya.
b.         Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun)
Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya.

c.         Tahap Operasi Konkrit ( kurang lebih 7 sampai 11 tahun ) 

Sumber : 
Drs. Agus Sujanto, Psikologi Umum, Jakarta AKSARA BARU – 1983.Hal 131
R. Abdul Djamali, S.H., Psikologi Dalam Hukum. Bandung ARMICO – 1984. Hal 85–87
Dra. Sumiati dkk, Metode Pembelajaran. Bandung CV WACANA PRIMA – 2007. 
Hal 47-48
http://win79.blogspot.com/2009/04/teori-belajar-kognitif_06.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar